Klausa merupakan tatara didalam sintaksis yang berada diatas
tataran frase dan dibawah tataran kalimat. Dalam pelbagai karya linguistik
mungkin ada perbedaan konsep karena penggunaan teori analisis yang berbeda.
Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtutan kata-kata
berkontruksi Predikat. Artinya, didalam kontruksi itu ada komponen, berupa kata
atau frase, yang berfungsi sebagai predikat; dan yang lain berfungsi sebagai
subjek, sebagai objek dan sebagai keterangan, fungsi subjek boleh dikatakan
bersifat wajib, sedangkan yang lainnya bersifat tidak wajib. Kalau kita
bandingkan kontruksi kamar mandi dan adik mandi, maka dapat dikatan kontruksi
kamar mandi bukanlah sebuah klausa
karena hubungannya komponen kamar dan
komponen mandi tidaklah bersifat
prediktif. Sebaliknya, kontruksi nenek
mandi adalah sebuah klausa karena hubungan komponen nenek mandi adalah sebuah klausa karena hubungan komponen nenek dan komponen mandi bersifat predikatif.
Anda mungkin bertanya, kalau begitu apakah bedanya klausa
dan kalimat? Bukankah kontruksi nenek
mandi adalah sebuah kalimat? Sebuah kontruksi desebut kalimat kalau kepada
kontruksi itu diberikan intonasi final atau intonasi kalimat. Jadi, kontruksi nenek mandi baru dapat disebut kalimat
kalau kepadanya diberi intonasi final, entah berupa intonasi deklaratif,
intonasi interogatif, maupun intonasi interjektif. Kalau belum diberi intonasi,
maka kontruksi nenek mandi itu masih bersatus klausa.
Dari uraian diatas bisa ditarik kesimpulan bahwa klausa memang
berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal karena didalamnya sudah ada fungsi sintaksi
wajib, yaitu subjek dan predikat. Selain subjek dan predikat yang bersifat
wajib hadir itu, ada pula unsur lain yang boleh ada atau boleh tidak ada dalam
sebuah klausa, yaitu objek,
pelengka, dan keterangan.
Subjek biasanya dikatakan sebagai suatu yang menjadi pokok,
dasar, atau hal, yang ingin dinyatakan oleh pembicara atau penulis. Sedangkan
predikat adalah pernyataan mengenai subjek itu. Jadi dalam klausa nenek mandi, bagian yang yang menjadi
subjek adalah nenek dan yang menjadi
predikat adalah mandi.
Jenis Klausa dapat diperbedakan berdasarkan strukturnya dan
berdasarkan kategori segmental yang menjadi predikatnya. Berdasarkan
strukturnya dapar dibedakan menjadi klausa bebas dan klausa terikat. Klausa
bebas adalah klausa yang mempunyai unsur-unsur lengkap, sekurang-kurangnya
mempunyai subjek dan predikat; dan karena itu dapat berpotensi menjadi kalimat
mayor. Umpamanya klausa nenekku masih
cantik dan kakekku gagah berani, yang masing-masing diberi intonasi final
sudah menjadi kalimat mayor; nenekku
masih cantik dan kakekku gagah brani.
Klausa terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.
Unsurnya mungkin hanya subjek saja, mungkin hanya objek saja atau juga hanya
keterangan saja. Oleh karena itu klausa terikat tidak berpotensi menjadi
kalimat mayor. Umpamanya, kontruksi tadi
pagi yang menjadi kalimat tanya: kapan
nenek membaca komik? Klausa terikat biasanya dapat dikenali dengan adanya
konjungsi subordinatif (klausa subordinatif/ klausa bawahan)didepannya.
Umpamanya klausa terikat ketika kami
sedang belajar di dalam kalimat Dia
pingsan ketika kami sedang belajar. Berdasarkan kategori unsur segmental
yang menjadi predikatnya dapat dibedakan adanya klausa verbal, klausa nominal,
klausa ajektifal, klausa adverbial, dan klausa preposisional.
Klausa Verbal adalah klausa yang predikatnya dikategorikan
verba: misalnya, klausa nenek mandi, kakek
menari. Klausa Verbal dibagi menjadi tiga yaitu klausa verba trnasitif,
klausa verba intransitif dan klausa verba reflektif.
Klausa nominal adalah klausa yang predikatnya berupa nomina
atau frase nominal, misalnya petani,
dosen linguistik. sebagai contoh ”kakeknya petani didesa itu” dan ”dia dulu dosen linguistik”.
Klausa ajektifal adalah klausa yang predikatnya
berkategorikan ajektifa, baik berupa kata ataupun frase. Umpamanya klausa ibu dosen itu cantik sekali dan gedung itu sudah tua sekali.
Klausa adverbial adalah klausa yang predikatnya berupa
adverbia. Misalnya, klausa bandelnya
teramat sanga.
Klausa Preposional adalah klausa yang predikatnya berupa
frase yang berkategorikan preposisi. Umpamanya, nenek di kamar dan dia dari
medan. Dalam bahasa indonesia, ragam tidak baku cukup produktif, namun
dalam ragam bahasa baku indonesia, kontruksi ini dianggap salah. Dalam ragam
bahasa indonesia baku kedua klausa diatas menjadi nenek ada di kamar dan dia
datang dari medan.
Klausa numeral adalah klausa yang predikatnya berupa kata
atau frase numeralia. Misalnya gajinya
lima juta sebulan dan anaknya
duabelas orang. Dalam ragam bahasa indonesia baku kedua klausa diatas
menjadi gajinya adalah lima juta sebulan dan
anaknya ada dua belas orang.